Monyet Burung Hantu

       Manusia yang tidak bisa setia pada pasangan mestinya malu pada monyet burung hantu. Primata bertubuh mungil yang menghuni pohon-pohon tropis ini ternyata setia pada satu pasangan hingga ajal menjemput. Baik jantan maupun betina, monyet burung hantu tidak pernah selingkuh dan tidak pernah meninggalkan pasangan mereka.

        Namun, para monyet "petualang" - yang keberadaannya pertama kali disadari tim peneliti pada 2003 di wilayah Chaco di Argentina - bisa mengacaukan harmonisme ini. Monyet "petualang" adalah monyet-monyet muda yang tidak kebagian pasangan. Menurut studi yang diterbitkan di dalam PLoS ONE, kelompok monyet ini memicu pertengkaran dengan monyet yang sudah berpasangan agar mereka berpisah.

        Akibatnya sungguh buruk. Pengamatan terhadap 150 monyet burung hantu menunjukkan bahwa mereka yang dipaksa berpisah dan berganti pasangan akan memiliki bayi dalam jumlah yang lebih sedikit dibandingkan mereka yang tidak pernah berpisah dengan pasangan. Ini tentu bisa mengancam kelangsungan hidup spesies tersebut.

        Berdasarkan studi terhadap 18 kelompok monyet burung hantu yang dilakukan selama nyaris dua dekade, tim yang dipimpin oleh Eduardo Fernandez-Duque menemukan bahwa pasangan yang berhasil mempertahankan hubungan mereka akan menghasilkan bayi 25 persen lebih banyak daripada mereka yang dipaksa untuk berpisah. Apa yang terjadi pada monyet yang tercampakkan? Mereka biasanya terluka dan mati.

        Menurut Fernandez-Duque, pakar antropologi biologi di University of Pennsylvania, ini berarti monogami amat penting bagi monyet burung hantu. Padahal, dari seluruh spesies manusia, hanya sekitar 5 persen yang menerapkan monogami.

         "Saya yakin penelitian ini menggambarkan fenomena sesungguhnya di alam bebas," ujar Patricia Wright, salah satu dari orang pertama yang mempelajari monyet burung hantu pada 1980-an. Pakar antropologi di Stony Brook University, New York, ini merasa senang melihat hasil studi yang menegaskan bahwa monyet burung hantu adalah hewan monogami.

        Menurut Larry Young, pakar ilmu saraf dan perilaku di Emory University di Atlanta, ikatan antara pasangan dalam hewan yang monogami, seperti monyet burung hantu, bisa jadi merupakan "pendahulu evolusioner dari perasaan cinta pada manusia."

Komentar