Kota Tarakan Banyak Menyimpan Warisan Sejarah Perang Pasifik 1942-1945


Bulan November identik dengan kepahlawanan. Tanggal 10 November misalnya, bangsa Indonesia memperingati peristiwa pertempuran Surabaya yang heroik. Dan tahukah kita, bahwa sebenarnya heroisme rakyat hampir semua terjadi di berbagai daerah. Perjalanan kali ini adalah mengunjungi salah satu "kota perang"  penting saat Perang Pasifik 1945 silam, Tarakan.

Hari masih siang saat kami menjejakkan kaki di Bandara Juwata, Tarakan, Kalimantan Timur. Perjalanan tiga jam ditempuh nonstop dari Jakarta dengan transit di Balikpapan. Sepanjang jalur Balikpapan-Tarakan, penumpang disuguhi pemandangan unik berupa "ukiran bukit" yang merupakan kawasan tambang batubara. Deretan bukit dikeruk, digali untuk memenuhi hasrat ekonomi para petambang dengan puluhan eskavator. Bandara Juwata sendiri termasuk kategori kelas 1 Khusus, mungkin karena di sebelahnya adalah Pangkalan TNI AU yang ditandai adanya beberapa helikopter tempur buatan Rusia sedang parkir.

"Selamat Datang di Tarakan, Gerbang Utara Borneo". Kota Tarakan banyak menyimpan warisan sejarah Perang Pasifik 1942-1945. Kota ini menjadi tempat transit pasukan sekutu yang akan menggempur pasukan Jepang. Sebelumnya, Tarakan juga menjadi tempat pendaratan pasukan Jepang sebelum merangsek ke Hindia Belanda (Indonesia). Dari Tarakan, pasukan Jepang kemudian menggempur Belanda hingga menyerah melalui Perjanjian Kalijati. 

Jauh sebelum perang, Tarakan sudah memesona banyak orang dengan adanya penemuan minyak. Hingga hari ini, kita dapat menyaksikan sejumlah perusahaan minyak ternama masih memompa minyak dari bumi Tarakan. Belasan pompa "angguk" beroperasi sepanjang waktu dan ada pula yang sudah pensiun. Karena itulah Belanda dan Jepang menjadikan Tarakan sebagai salah satu basis militer penting.

Di daerah Juwata Laut (Tarakan Utara), masih dapat disaksikan meriam-meriam yang dipasang di puncak bukit menghadap ke laut lepas. Meriam yang sudah terkena korosi parah ini seakan bercerita betapa dahsyatnya perang saat itu. Sayangnya, situs sejarah ini sudah berada di dalam areal tanah milik sebuah perusahaan penggilingan kayu sehingga tidak mudah diakses. Kami sendiri harus menghubungi Kepala Desa setempat untuk mendapatkan ijin masuk.

Selain meriam, di kawasan ini banyak terdapat persembunyian bawah tanah (bunker) yang terbuat dari beton, tertanam dalam perut bukit. Konon, bunker-bunker ini adalah gudang senjata dan tempat bersembunyi bagi pasukan yang bertahan. Menurut Pak Nurda (74), warga setempat, bunker ini dibangun tahun 1930-an oleh Belanda. Mungkin saat itu ancaman serangan Jepang sudah terasa sehingga Belanda membangun bunker.

Bunker di Tarakan berukuran 4 x 3 meter dengan tinggi seukuran kepala (170 cm). Betonnya kokoh dan keras. Agak sukar membayangkan bahwa 85 tahun lalu, tehnik beton yang digunakan sangat maju. Indonesia sendiri, baru sekitar 1990-an mulai "demam" beton. Kondisi di dalam bunker sangat lembab, gelap (tidak berlampu listrik), dan pengap. Lagi-lagi disayangkan bahwa warisan sejarah penting semacam ini mungkin akan segera musnah dimakan usia.

Amir(29), pemuda asli Tarakan menceritakan bahwa hampir tiap dua bulan sekali, ada saja turis dari Jepang, Amerika, atau Australia mengunjungi Tarakan dan melihat bangunan-bangunan sisa perang. Di Desa Mamburungan, Tarakan Timur terdapat 10 buah makam tentara Jepang yang ditandai dengan nisan-nisan kecil berbentuk aneh. Rata-rata turis itu mengaku mendapat informasi dari buku sejarah di negara mereka.

"Hebat juga, kita yang ketempatan tidak tahu apa-apa soal sejarah perang pasifik," ungkap Amir kecewa.

Situs sejarah di Mamburungan tergolong lengkap. Ada bunker, makam, dan enam buah meriam di lereng bukit menghadap laut. 

Sejenak pikiran pun melayang, membayangkan suasana perang pasifik sedang berkecamuk. Saat pengeboman, semua orang bersembunyi di dalam bunker sambil harap-harap cemas. Di luar bunker, pasukan gagah berani terus bertenpur tembak menembak dengan meriam dari puncak-puncak bukit menembaki kapal perang yang mencoba merapat. Namun kemudian lamunan ini sirna saat pandangan mata bertumpu pada karat-karat akut yang menggerogoti bekas-bekas meriam, serta bunker yang lembab, gelap dan tidak terawat.

Komentar