Pertolongan Pertama Bila Keracunan Makanan

Keracunan makanan bisa terjadi tanpa diduga. Ketahui cara mewaspadainya dan pertolongan pertama yang bisa dilakukan.

Nyeri perut, diare dan muntah.

Itulah gejala paling lazim dialami oleh mereka yang mengonsumsi sesuatu yang telah terkontaminasi bakteri patogen. Istilah awamnya: keracunan makanan.

Inilah penjelasan yang disampaikan Dr. Wina Sinaga, M.Gizi.Sp.GK, staf pengajar Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSCM.

"Penyebab keracunan makanan adalah mikroorganisme patogen, yakni bakteri yang mengkontaminasi makanan," jelas Dr. Wina. "Jenis bakteri yang sering menyebabkan keracunan makanan adalah Salmonella, Campylobacter, Listeria, dan Escherichia coli."

Pemaparan serupa diberikan oleh Leona Victoria M.Nut., Pakar Nutrisi dan Diet Klinik Gizi Keluarga yang merupakan alumni The University of Sidney.

Menurut Leona, penyebab umum keracunan makanan adalah konsumsi makanan yang tidak higienis atau telah lewat kadaluarsa. Kedua faktor ini akan menghasilkan makanan yang terkontaminasi atau berkadar patogen (mikroorganisme jahat) tinggi.

"Selain itu, risiko keracunan terjadi pada makanan yang tidak disimpan dan diolah secara benar," jelas Dr. Leona. "Misalnya, makanan tidak dimasak secara menyeluruh, seperti ikan atau ayam yang masih ada darahnya."

Atau, setelah dimasak, makanan dipegang atau disimpan secara tidak benar.

"Makanan di gerai fast food, misalnya. Suhu tempat penyajian lebih rendah dari 70 C, maka kemungkinan pertumbuhan bakteri patogen akan tinggi," tegas Leona.

"Begitu pula makanan yang lewat tanggal kadaluarsa yang biasa tertera di setiap kemasan. Ini penting terutama untuk fresh produce atau makanan yang tidak diproses steril sebelum dijual, seperti sayur, buah, dan susu segar," kata Leona.

"Potensi keracunan meningkat pada semua makanan apabila proses pemasakan, penyimpanan, pendistribusian, maupun penyajian dilakukan dengan tidak selayaknya," Dr. Wina mengingatkan.

"Bahan makanan yang lebih sering dijadikan tempat bakteri berkembang biak adalah daging, unggas, produk olahan susu, telur, produk laut, nasi, dan buah potong," imbuhnya.

Bicara makanan memang tak boleh main-main.

Dr. Didah Nur Faridah, staf pengajar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, institut Pertanian Bogor, mengingatkan bahwa pangan olahan yang diproduksi harus mengikuti Cara Pembuatan Olahan yang Baik.

"Selain itu, pangan harus layak dikonsumsi, yaitu tidak busuk, tidak menjijikkan, dan bermutu baik, serta bebas dari cemaran biologi, kimia dan fisik," jelas Dr. Didah.

Cara sederhana dan mudah dilakukan untuk melihat pangan yang aman bisa dilihat dari penampakan luar produk, misalnya aroma, tekstur, warna, serta kemasan.

"Gejala paling umum dari keracunan makanan biasanya mencakup sakit perut, muntaber, lemas, tidak enak badan, dan panas," ujar Leona. "Gejala berat bisa mencakup kelumpuhan atau bahkan kematian pada immuno-suppressed individual, seperti ibu hamil, lansia, dan orang sakit."

"Manifestasi yang sering terjadi dari keracunan makanan adalah kombinasi beberapa gejala, seperti mual, muntah, dan diare, baik berdarah atau tidak," kata Dr. Wina. "Jika diabaikan, dampaknya adalah gejala berkepanjangan bahkan kematian."

Keracunan makanan, menurut Dr. Wina, dapat berlangsung selama 1-3 hari. Ketika "racun" tersebut masuk ke tubuh, sebenarnya lambung memiliki mekanisme pertahanan tubuh melalui pengeluaran asam lambung dan peristaltik.

"Di lambung, banyak patogen yang dapat dihancurkan oleh asam lambung. Namun, ada beberapa jenis patogen yang tidak dapat hancur oleh asam lambung dan dapat menyebabkan keracunan makanan saat masuk ke usus, seperti Salmonella dan E. Coli," jelas Leona.

Leona menambahkan, organ yang terdampak biasanya di usus, karena yang terserang adalah mikroflora usus dan tempat penyerapan makanan, sehingga patogen bisa masuk ke saluran darah.

Membedakan keracunan dengan sakit perut lain relatif mudah.

"Keracunan umumnya terkait dengan makanan atau minuman yang dikonsumsi, sementara sakit perut lain dapat terkait dengan tanda-tanda yang menyertai, misalnya datang bulan pada perempuan," ujar Dr. Wina.

Begitu pula antara keracunan dan alergi, ada perbedaan cukup signifikan. Alergi makanan biasanya lebih cepat terjadi segera setelah makan. Gejala alergi biasanya adalah ruam atau gatal-gatal di kulit, sesak napas, nyeri dada, sampai syok.

"Alergi memiliki reaksi instan; saat itu juga akan bereaksi. Gejalanya juga akan muncul di permukaan kulit, seperti gatal-gatal, ruam, bengkak, sampai susah napas, bukan gejala pada saluran pencernaan," jelas Leona.

Mengapa ada makanan yang mungkin membuat seseorang keracunan tapi yang lain tidak? Ini tergantung pada jenis patogen, jenis racun, maupun tingkat kontaminasi yang terjadi pada makanan yang dikonsumsi, dan tingkat kekebalan tubuh setiap individu.

Leona mengingatkan, kadang keracunan makanan tidak terdeteksi. Ini karena pada jenis patogen, gejala bisa muncul sampai lebih dari 24 jam kemudian, saat masuk ke aliran darah.

Terkait hal tersebut, para pakar ini menguak bahwa kesalahan paling umum yang dilakukan saat terjadi keracunan makanan adalah menganggap remeh keracunan.

Akibatnya, pasien tidak melakukan rehidrasi oralit secara cukup atau mengambil tindakan mengatasi gejala lain jika ada (panas, misalnya) sehingga tubuh dalam keadaan lemas.

"Kesalahan utama adalah tidak melakukan apa-apa dan hanya berdiam diri, berharap gejala akan hilang dengan sendirinya, atau mengonsumsi obat tanpa berkonsultasi dengan dokter," tandas Dr. Wina.

Apa pertolongan pertama yang bisa dilakukan?

Menurut Dr. Wina, langkah pertama salah satunya adalah dengan menanggulangi gejala yang terjadi, misalnya memberikan minum air mineral dan oralit ketika terjadi muntah-muntah dan diare.

Sementara itu, langkah medis yang dapat dilakukan untuk mengatasi keracunan makanan adalah dengan memberikan obat untuk mengatasi gejala muntah, diare, atau sakit perut.

"Pertolongan pertama biasanya adalah dengan memanfaatkan Norit sebagai penawar racun dan mencegah dehidrasi dengan minum oralit sampai gejala mereda," tandas Leona.

"Sebaiknya, sebelum kita mengonsumsi produk pangan, pastikan pangan tersebut tidak memiliki penyimpangan, misalnya tercium bau tidak sedap, berlendir, atau warnanya terlalu mencolok," kata Dr. Didah.

"Pangan yang aman adalah makanan dan minuman yang bebas kuman dan mikroba patogen, bahan kimia, dan bahan berbahaya lain yang bila dikonsumsi menimbulkan gangguan kesehatan manusia," Dr. Didah mengingatkan.

"Secara ideal, hal ini bisa dibuktikan dengan pengujian bahan pangan di laboratorium. Namun, secara kasat mata, hal tersebut bisa dilihat dari ada atau tidak adanya penyimpangan pada produk pangan tersebut," pungkas Dr. Didah.


Cara Mencegah Keracunan

* Selalu menjaga kebersihan.
* Memisahkan bahan pangan mentah dan matang.
* Memasak makanan hingga matang.
* Menyimpan makanan pada suhu yang sesuai.
* Menggunakan air bersih dan bahan pangan yang masih segar.
* Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.


Pintar Pilah Pangan

* Teliti pangan yang dikemas dan pastikan kemasan dalam kondisi baik dan tersegel rapi. Pada produk kalengan, kaleng tidak penyok atau karat.
* Periksa keterangan pada label kemasan, seperti tanggal kadaluarsa dan komposisi bahan yang digunakan.
* Cermati bahan pangan dalam produk, terutama bagi penderita alergi. Waspada jika pangan tersebut mengandung alergen, seperti susu, telur, gandum, ikan, kerang, kacang tanah, dan kedelai.


Komentar