Benarkah Makan Biji-bijian Bisa Memicu Usus Buntu?



Usus buntu kerap menimbulkan misersepsi di tengah masyarakat. Pahami usus buntu secara tepat.

Semua rentang usia bisa terpapar usus buntu. Namun, risiko paling tinggi pada usia produktif 18-40 tahun.

Di Indonesia belum ada data prevalensi penderita usus buntu. Di Eropa, 100 dari 100.000 penduduk pernah menderita radang usus buntu. Bermula di usus hati, nyeri lantas menjalar ke kanan bawah perut. Inilah gejala khasnya.
Terletak di perbatasan usus halus dan usus besar, usus buntu merupakan lumen atau saluran usus bagian dari usus besar yang tidak berkembang menjadi usus, normal variasinya sepanjang 5-15 cm.

Pada hewan, terutama yang memamah biak seperti sapi dan kambing, usus buntu ini berkembang jadi panjang. Pada manusia, ukurannya mengecil dan tidak berfungsi apa-apa dalam sistem pencernaan.

Karena usus buntu merupakan bagian dari organ tubuh, maka setiap orang punya usus buntu. Nah, peradangan yang terjadi di usus buntu inilah yang sering disebut sebagai radang usus buntu atau apenditis.
"Sesuai namanya, radang usus buntu terjadi di sepanjang saluran atau lumennya terjadi sumbatan," ujar Dr. Agi Satria Putranto, Sp.B, KBD, staf pengajar Departemen Bedah FKUI/RSCM.

Sumbatan bisa berasal dari kelenjar, karena usus buntu hampir sama secara histopatologi atau struktur mirip dengan usus besar, di mana banyak terdapat kelenjar.

"Sama halnya kelenjar getah bening akan membesar saat kita mengalami flu, pada radang usus buntu juga demikian. Sumbatan yang terjadi di saluran usus buntu akibat kelenjar di area tersebut yang membesar," jelas Dr. Adi.

Penyebabnya bisa karena kotoran yang mengeras, seperti BAB yang tidak lancar, atau sumbatan karena menelan biji cabai dan biji tomat.

"Atau, kondisi anatomis di mana usus buntu itu letaknya berkelok-kelok sehingga lumen menyempit dan terjadi sumbatan. Namanya juga buntu, tidak terkoneksi ke mana-mana, maka bisa masuk ke dalam usus besar, menumpuk di sana dan mampet," kata Dr. Agi.

Karena banyaknya kuman yang mengendap di usus, lalu berkembang biak, jadi peradangan, ada nanah. Lama-kelamaan, pembuluh darahnya terganggu karena tekanannya meningkat. Jika peradangan tersebut tidak segera diatasi, maka kemungkinan usus buntu bocor.

Penjelasan yang sama disampaikan oleh Dr. Eko Priatno, Sp.B, KBD, dari RSPI Puri Indah.

"Usus buntu adalah suatu struktur usus yang berbentuk tabung dengan ujung yang buntu, sedangkan pangkalnya bermuara ke usus besar (caecum)," jelas Dr. Eko.

"Dikenal dengan usus buntu karena bagian ujungnya (tip appendix) merupakan saluran yang tidak bermuara ke struktur usus lainnya, jadi benar-benar buntu," kata Dr. Eko.

Lebih rinci Dr. Eko memaparkan proses terjadinya usus buntu dimulai dengan sumbatan dalam rongga usus buntu, sehingga produk sekresi selaput lendir tidak bisa mengalir ke dalam usus besar.

Akibatnya, cairan dalam rongga usus buntu terperangkap dan menyebabkan peningkatan tekanan dalam usus buntu. Bila kondisi ini dibiarkan, akan terjadi seperti balon yang ditiup terus dan semakin lama semakin membesar, hingga akhirnya usus buntu pecah.

Ada dua penyebab radang usus buntu yang paling umum.

Pertama adalah sumbatan dalam usus buntu bisa berupa fekolit (feses yang keras), sisa-sisa makanan, cacing. Kedua, pembengkakan kelenjar getah bening pada usus buntu akibat reaksi infeksi (batuk, pilek, infeksi usus).

Gejala awalnya, kata Dr. Eko, tidak spesifik, seperti mual, muntah, begah, dan terasa tidak nyaman di sekitar pusar atau ulu hati. Beberapa hari kemudian, nyeri perut menjadi semakin jelas, yaitu nyeri yang berpindah dari ulu hati atau sekitar pusar menuju perut kanan bawah.

"Bila disertai demam, maka pasien harus cepat menemui dokter bedah. Hal ini bisa menjadi tanda bahwa usus buntu Anda sudah pecah," tegas Dr. Eko.

"Apendisitis akut biasanya terjadi setelah nyeri berlangsung selama 24 jam. Artinya, 24 jam pertama mulai merasakan nyeri di sebelah kanan bawah, kalau dioperasi masih meradang, sampai biasanya 36 jam kedua masih sama," kata Dr m Agi.

"Kalau sudah lebih dari 72 jam, bisa terjadi bocor pada usus buntu. Kebocoran bisa kecil, bisa juga besar, tergantung daya tahan tubuh seseorang," tegas Dr. Agi.

Untuk menegakkan diagnosis usus buntu, Dr. Eko mengungkapkan, dimulai dari keluhan pasien. Jika sesuai gejala-gejala di atas, maka dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan berupa pemeriksaan darah (apakah leukosit meningkat atau normal) dan pemeriksaan radiologi berupa USG atau CT-scan abdomen.

Saat ini, bentuk terapi pengobatan paling tepat untuk usus buntu adalah pembedahan atau apendektomi.

Ada dua metode operasi
Pertama, operasi konvensional (alias open apendektomi). Kedua, operasi modern, atau dikenal dengan istilah "minimal invasif" (laparaskopik apendektomi).

Setiap pasien dengan diagnosis apendisitis adalah indikasi mutlak operasi. Bila tidak, dikhawatirkan usus buntu bisa pecah. Persiapan yang harus dilakukan yaitu puasa makan dan minum 4-6 jam sebelum operasi, serta cek laboratorium dan rontgen paru untuk persiapan pembiusan.

Jika tidak ditangani dengan tepat, risiko yang mungkin ditimbulkan adalah usus buntu pecah dan terjadi infeksi berat yang berakibat kerusakan atau kegagalan fungsi organ tubuh, seperti hati, ginjal, paru, otak. Bahkan, bisa menyebabkan kematian.

Dengan tegas Dr. Eko mengingatkan sejumlah mitos seputar usus buntu, misalnya konsumsi biji-bijian yang dianggap dapat memicu.

"Ini salah kaprah. Meski secara teori bisa saja biji-bijian menyebabkan sumbatan pada usus buntu, realitanya dalam praktik, kondisi ini sangat jarang bahkan belum pernah ditemui," tandas Dr. Eko.

Pendapat sedikit berbeda disampaikan Dr. Agi. Menurutnya, makan biji-bijian dapat memicu usus buntu adalah fakta, bukan mitos. Saat biji masuk ke sana maka bisa menyumbat, meski tidak secara langsung.

"Hanya saja, bila ada kesempatan, tidak menutup kemungkinan terjadi penyumbatan yang berujung peradangan di usus buntu. Sekali lagi, tidak secara langsung," pungkas Dr. Agi.


Komentar