Drama Piala Dunia Satu Dekade Terakhir Yang Tak Terlupakan

Turnamen akbar sepakbola Piala Dunia selalu meninggalkan momen-momen bersejarah di setiap penyelenggaraannya. Tidak hanya di putaran final, di babak kualifikasi pun momen-momen bersejarah itu akan selalu menjadi kenangan yang tidak akan bisa dilupakan. Bukan cuma luapan gembira atau pun kesedihan, amarah, kebencian dan juga tipu daya menjadi bagian dari momen-momen tersebut. Momen-momen sarat emosi yang membuat setiap edisi Piala Dunia mempunyai cerita sendiri-sendiri. Berikut sepuluh momen di Piala Dunia yang tidak bisa dilupakan selama satu dekade terakhir yang dirangkum goal.com.

10) Kejutan Senegal atas Prancis

Seperti di penyelenggaran Piala Dunia 1990 di Italia, pada Piala Dunia 2002, tim Afrika kembali membuat kejutan. Adalah Senegal yang bersinar pada Piala Dunia yang digelar di Jepang dan Korea Selatan tersebut. Tergabung bersama juara bertahan sekaligus juara Eropa, Prancis di fase grup, Papa Bouba Diop dkk berhasil lolos ke babak 16 besar dengan menyingkirkan Prancis di babak pertama dengan tidak bisa mencetak satu gol pun. Satu catatan penting, penyerang-penyerang ‘Les Blues’ kala itu merupakan top skor di Liga Inggris, Italia dan juga Prancis.

9) Akting Rivaldo Di penghujung abad 20

Rivaldo merupakan salah satu dari tiga pemain top di dunia, dan meskipun karirnya turun tajam di tahun 2002, dia akan selalu menjadi bagian dari keberhasilan Brasil menjadi juara Dunia di tahun tersebut. Lima golnya dan juga perannya sebagai jenderal lapangan tengah berpengaruh besar atas keberhasilan Selecao meraih tropi Piala Dunia ke lima mereka. Namun sayangnya, kegemilangan Rivaldo di turnamen ini dirusak oleh insiden akting pura-puranya saat Brasil melawan Turki. Saat pemain Turki Hakan Unsal menendang bola yang mengenai pahanya, Rivaldo langsung berakting dengan terjatuh sambil memegang wajahnya dengan penuh kesakitan. Sehingga Hakan Unsal menerima kartu kuning kedua dari wasit yang membuatnya diusir keluar pertandingan. Dan bagi Rivaldo, usai pertandingan dirinya dicap sebagai penipu dan dihukum denda sebesar 11.670 Franc Swiss. Tiga Kartu Kuning dari Wasit Graham Poll Mantan wasit Graham Poll sudah tidak memiliki rekor yang baik dalam turnamen internasional saat terpilih pleh FIFA untuk menjadi salah satu wasit pada Piala Dunia 2006. Wasit asal Inggris tersebut telah terlibat dalam pertandingan kontroversial di Piala Eropa 2000 dan Piala Dunia 2002. Dalam kompetisi yang terakhir (Piala Dunia 2002) saat memimpin laga grup G antara Italia dan Kroasia, Poll membuat keputusan yang menganulir dua gol Italia yang membuat Italia akhirnya kalah 1-2 oleh Kroasia. Dan pada Piala Dunia 2006, kepemimpinan kontroversial Poll kembali terulang, saat ia memimpin pertandingan Grup F antara Australia dan Kroasia. Pada pertandingan terakhir grup yang sangat menentukan itu, Poll baru mengeluarkan bek Kroasia Josip Simunic dari pertandingan setelah menerima kartu kuning ketiga. Entah lupa atau bukan, perbuatan Poll itu dianggap sebagai upaya untuk meloloskan wakil Eropa ke babak 16 besar. Pertandingan itu sendiri akhirnya berakhir imbang 2-2 yang membuat Australia berhak lolos ke babak selanjutnya.

8) Italia Korban Korea Selatan


Timnas Italia yang menjadi korban pertandingan "kotor" melawan Korea Selatan di Piala Dunia 2002. Italia secara mengenaskan kalah 1-2 dari tuan rumah Korsel pada babak 16 besar di Daejeon World Cup Stadium. Menghadapi Korsel, Tim Azzurri diprediksi akan melangkah mulus ke babak perempat final. Sayang kenyataan di lapangan berbicara lain. Pasukan negeri ginseng lah yang berhasil mempermalukan Italia yang harus menerima kenyataan tim mereka keok pada laga yang jauh dari kata fair play. Christian Vieri sempat membuat laga terlihat mudah bagi Italia usai mencetak gol menit ke-18. Namun usai itu Italia justru kesulitan karena harus menghadapi permainan ala sepakbola jalanan. Situasi semakin sulit bagi Italia karena Christian Panucci mencetak gol bunuh diri menit ke-88 dan harus menjalani perpanjangan waktu. Belum usai disitu, Italia bahkan harus bermain dengan 10 orang di babak perpanjangan waktu setelah Francesco Totti menerima kartu kuning kedua dari wasit kontroversial, Byron Moreno. Anehnya, wasit asal Ekuador tersebut seperti menutup mata dengan permainan keras Korsel. Permainan kasar Korsel hanya diganjar empat kartu kuning oleh wasit kontroversial itu. Ahn Jung Hwan akhirnya menjadi musuh besar Italia setelah mencetak gol penentu kemenangan Korsel menit ke-117. Gelaran Piala Dunia yang kala itu masih menganut peraturan, golden goal, praktis membuat Korsel memastikan diri menjadi pemenang. Italia pun kandas di babak 16 besar Piala Dunia 2002, sementara Korsel melaju hingga semifinal setelah di perempat final menyingkirkan Spanyol kembali dengan permainan jalanan ala mereka. Italia pun menuntut balas dengan membatalkan kontrak Ahn Jung Hwan bersama Perugia sehari setelah pertandingan. Pemilik Perugia Luciano Gaucci mengatakan, "Saya tidak berniat membayar gaji kepada pemain yang telah menghancurkan sepakbola Italia."

7) Baik, Buruk dan Sangat Buruk dari Argentina Pada Piala Dunia 2006

Argentina menjadi tim yang difavoritkan akan merebut gelar. Dan nampaknya prediksi itu terlihat akan menjadi kenyataan lewat penampilan Argentina yang mengkilap di fase grup. Tergabung bersama Belanda, Pantai Gading dan Serbia & Montenegro di grup maut, tim Tango keluar sebagai juara grup yang pada salah satu pertandingannya menghajar kuda hitam Serbia & Montenegro 6-0 tanpa balas. Di babak 16 besar, langkah Argentina nampaknya masih mulus dengan mampu melewati Meksiko dengan skor 2-1. Namun sayang pada babak perempat final langkah skuat Jose Pekerman ini terhenti oleh Jerman lewat adu tendangan penalti. Sempat unggul hingga menit-menit akhir pertandingan, Jerman berhasil menyamakan skor sekaligus menang di babak adu penalti. Kekalahan atas Jerman ini membuat kritikan terhadap Pekerman, yang menyimpan Lionel Messi dan juga Juan Roman Riquelme pada laga tersebut. Kekalahan yang tidak bisa diterima para pendukung Argentina ini berbuntut panjang. Usai pertandingan, kerusuhan terjadi, dimana para suporter Argentina mengamuk dan sempat terjadi perkelahian dengan pendukung Jerman diluar stadion. Kegemilangan Argentina di babak-babak awal harus ternoda dengan kerusuhan para pendukungnya.

6) Teriakan Fabio Grosso

Momen yang paling terkenal dalam penyelengaraan Piala Dunia sepanjang masa adalah teriakan Marco Tardelli saat mencetak gol kemenangan Italia atas Jerman Barat di final Piala Dunia 1982. Dan momen itu kembali dilakukan oleh bek Italia Fabio Grosso di Piala Dunia 2006 saat mencetak gol pertama Italia ke gawang Jerman di babak semifinal. Setelah mencetak gol di masa perpanjangan waktu, Grosso berlari sambil berteriak dan mengeluarkan air mata kebahagiaan, suatu momen yang tidak akan bisa dilupakan oleh warga Italia.

5) Diego Maradona Meluncur dengan Perut Buncitnya

Saat pemain Peru Hernan Rengifo mencetak gol penyeimbang ke gawang Argentina di menit-menit akhir pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2010 zona Amerika Selatan, pelatih Argentina Diego Maradona langsung putus asa dengan mengatakan selesai sudah perjuangan Argentina untuk lolos ke Piala Dunia. Pada laga yang diguyur hujan itu, kemenangan yang sudah si depan mata pupus secepat kilat. Curah hujan yang lebat dianggap Maradona menambahkan kesedihan bagi dirinya. Tapi tiba-tiba suatu keajaiban datang, sebuah gol di masa injury time dari penyerang veteran Martin Palermo membawa Argentina kembali berbalik unggul dan menghidupkan peluang mereka lagi. Maradona yang tadinya sudah pasrah langsung teriak dan merayakan gol Palermo tersebut. Sambil masuk ke lapanghan yang becek akibat hujan deras, Maradona meluncur dengan perut buncitnya tanpa memperdulikan suasana sekitar. Suatu momen yang tidak akan dilupakan juga dalam sejarah Piala Dunia.

4) Tendangan bebas Ronaldinho

Dari sekian momen di Piala Dunia selama satu dekade terakhir, mungkin aksi pemain Brasil Ronaldinho menjadi satu-satunya yang benar-benar menunjukkan sebuah kemampuan teknik. Di Piala Dunia 2002 saat Brasil berhadapan dengan Inggris di babak perempat final, Ronaldinho mencetak gol penentu kemenangan tim Samba. Gol Ronaldinho ini tergolong spektakuler karena dicetak lewat sebuah tendangan bebas sejauh 40 yard. Gol ini juga sangat cantik karena mematikan langkah kiper Inggris kala itu, David Seaman yang hanya terbengong saat bola meluncur deras ke dalam gawangnya. Namun meski masih menjadi pertanyaan apakah tendangan bebas Ronaldinho itu bermaksud mengumpan atau menendang langsung, faktanya Brasil bisa lolos ke semifinal dan bahkan menjadi juara.

3) Handsball Thierry Henry

Tidak diragukan lagi momen paling kontroversial di tahun 2009 adalah handsball kapten Prancis Thierry Henry saat laga play–off Piala Dunia 2010 zona Eropa melawan Irlandia. Meski bukan Henry yang mencetak gol, aksi handsballnya bisa disamakan dengan gol ‘Tangan Tuhan’ milik Diego Maradona di Piala Dunia 1986 karena dengan aksi Henry tersebut memupuskan langkah Irlandia ke Afrika Selatan tahun depan. Handsball yang dilakukan Henry itu langsung mendapat kritikan tajam dari kubu Irlandia yang langsung meminta FIFA mengelar pertandingan ulang, yang tetap ditolak FIFA. Dan meski henry sendiri telah mengaku serta meminta maaf, FIFA tetap tidak bergeming dengan keputusannya. Bahkan permintaan Irlandia agar dapat berlaga di Afrika Selatan tahun depan dengan menjadi negara ke-33, dengan tegas ditolak FIFA.


2) Byron Moreno

Italia tersingkir dari Piala Dunia 2002 di babak 16 besar oleh tuan rumah Korea Selatan lewat gol mantan bintang Perugia Ahn Jung-Hwan di babak perpanjangan waktu. Kekalahan Italia ini menjadi salah satu pertandingan yang paling terkenal dalam sejarah Piala Dunia karena dianggap adanya kecurangan pada laga yang dipimpin oleh wasit Byron Moreno tersebut. Pada laga itu, Italia beberapa kali menciptakan gol yang dianulir oleh Moreno, dan puncaknya di kartu merahkannya Fransesco Totti pada laga tersebut karena dianggap melakukan diving. Setelah pertandingan, pelatih Italia Giovanni Trapattoni menyatakan bahwa telah terjadi persekongkolan melawan mereka, dan mengklaim bahwa selama pagelaran Piala Dunia 2002 setidaknya empat gol sah azzurri dianulir oleh wasit yaitu pada laga melawan Kroasia dan Meksiko. Moreno sendiri menjadi simbol penjahat di Piala Dunia 2002. Setelah Piala Dunia 2002, Moreno masih melakukan tindakan kontroversial dengan memberikan tambahan waktu 13 menit saat memimpin laga antara Universita Deportiva de Quito dan Barcelona Sporting Club. Deportivo yang saat itu tertinggal 2-3, berhasil mencetak dua gol selama 13 menit perpanjangan waktu sehingga berbalik menang 4-3. Atas kepemimpinannya ini, Moreno dihukum larangan memimpin 20 pertandingan. Usai menjalani hukuman, Moreno kembali mendapatkan hukuman setelah mengusir tiga pemain dalam satu pertandingan. Tidak lama setelah itu ia pensiun dari dunia wasit.

1) Tandukan Zinedine Zidane

Di urutan pertama momen yang tidak bisa dilupakan di satu dekade terakhir adalah tandukan legenda Prancis Zinedine Zidane kepada bek Italia Marco Materazzi pada final Piala Dunia 2006. Tandukan Zidane terhadap Materazzi ini membuatnya diusir keluar oleh wasit sehingga Italia keluar sebagai juara Piala Dunia 2006 lewat adu tendangan penalti setelah hingga babak tambahan kedua tim bermian imbang 1-1. Aksi Zidane ini sendiri menjadi aksi terakhir dalam karirnya setelah ia menyatakan pensiun dari sepakbola setelah pertandingan. Ada banyak spekulasi apa yang menjadi penyebab tindakan Zidane ini terhadap Materazzi. Dan setelah beberapa lama Zidane akhirnya mengungkapkan kenapa ia menanduk Materazzi. Menurut Zizou, alasan kenapa ia menanduk Materazzi karena bek Inter Milan tersebut telah menghina adiknya Zizou.




Komentar